Senin, 14 Agustus 2017

ADA SESUATU DI JOGJA ...

source: Google
 
Karena waktu kamu bercerita tentang Jogja, kamu bercerita tentang kisahmu sendiri. Waktu kamu menikmati Jogja, kamu menikmati ceritamu sendiri. Jogja berharga bagi siapa saja yang pernah punya cerita disana. Cerita tentang apa saja, tentang siapa saja, tentang dimana saja. Jogja bukan gudeg, bukan malioboro, bukan tugu, dan bukan keraton saja. Jogja itu cerita dibalik itu semua.. dibalik cangkir demi cangkir kopi, dan bungkus demi bungkus nasi teri. Entah apa yang dipikirkan Katon Bagaskara waktu dia menulis "ijinkan aku kembali".
 "JOGJA MENAWARKANMU RINDU"
Kamil Muhdar
pukul 2:30 pagi 
disudut tugu jogja
hingar bingar yang mulai hilang
perlahan-lahan hadirkan sunyi
mengundang angin malam yang mulai berisik
seakan mengajak kita berdiskusi
lalu sesekali menyelinap masuk kekulit
membekukan segala kerisauan 
pada jiwa-jiwa yang lelah
Kopi-kopi dalam gelaspun perlahan mulai dingin
namun rasanya masih sama
tetap pada kadar kepahitannya yang nikmat
bintang-bintangpun menawarkan pemandangan lagit yang indah
sunggu maha hebat tuhanku yang perkasa
menghadirkan kesederhanaan  
namun mampu menawarkan cerita yang istimewa
Mari kita kesampingkan problematika hati kita
melepaskan segala penat didada
yang terlalu sibuk menghardik batin kita
Lupakanlah . .
Waktu ini hanya bisa kita genggam disini
jangan pulang dulu, sang fajar masih ayal tuk hadir
bus-bus antar kotapun belum enggan berpolusi
Nikmatilah. .
Sebab jogja pasti selalu menawarkan rindu 
untuk segera memintamu kembali mendublir


 
source: Google


Di bawah ladang bintang aku bersimpuh. Menikmati lalu-lalang kendaraan, kepulan asap tipis dan arakan awan yang tersipu malu berjalan. Dibaliknya bulan kecil tersenyum. Seolah berharap tiada hujan datang melukai bintang-bintang. Lalu kini seiring detik melingkar, tidak lagi diriku menganggap bintang-bintang dan awan adalah pemandangan, tetapi, hati kecilku berkata bahwa mereka adalah teman. Mereka selalu setia menemani langkahku menyusuri gelap malam.
Dan mereka telah mengenalkanku pada mentari, yang menyinari hariku dengan cahaya penuh kasih sayang dikala siang. Ia menuntun mataku untuk melihat rumput-tumput berdansa, dan menuntun telingaku untuk mendengarkan cerita burung-burung minggu pagi. Jogja memiliki caranya sendiri untuk membuatku nyaman.
Dialah metropolitan yang menawarkan hasrat menenangkan, dengan, angklung dan beberapa baris nada di lampu merah, pedagang-pedagang Malioboro yang tersenyum ramah tamah, bunga layu di pasar kembang, kunang-kunang di padang ilalang, tikar dan jagung bakar yang mengitari beringin kembar, serta embun-embun yang bercinta dengan pucuk daun di pinggir jalan. Jogja tak pernah lupa cara untuk membuatku mencintainya.
Jogja adalah mosaik yang menilas, membungkus puisi dan narasi indah yang selalu membekas. Sampai jika aku harus meniggalkan Jogja, itu berarti aku bersepakat pada diriku untuk menanamkan rindu kepada Jogja.

Source: Google

"Terbawa lagi langkahku ke sana mantra apa entah yang istimewa kupercaya selalu ada sesuatu di jogja dengar lagu lama ini katanya izinkan aku pulang ke kotamu kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja"-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GOODBYE GLASSES

Hi! Jadi, aku mau share pengalaman lasik yang baru aku lakuin 3 hari yang lalu. Sebelumnya, aku udah pake kacamata dari kelas 6 SD dimula...