![]() |
| source: Google |
Karena waktu kamu bercerita tentang Jogja, kamu bercerita tentang kisahmu sendiri. Waktu kamu menikmati Jogja, kamu menikmati ceritamu sendiri. Jogja berharga bagi siapa saja yang pernah punya cerita disana. Cerita tentang apa saja, tentang siapa saja, tentang dimana saja. Jogja bukan gudeg, bukan malioboro, bukan tugu, dan bukan keraton saja. Jogja itu cerita dibalik itu semua.. dibalik cangkir demi cangkir kopi, dan bungkus demi bungkus nasi teri. Entah apa yang dipikirkan Katon Bagaskara waktu dia menulis "ijinkan aku kembali".
"JOGJA MENAWARKANMU RINDU"
Kamil Muhdar
Kamil Muhdar
pukul 2:30 pagi
disudut tugu jogja
hingar bingar yang mulai hilang
perlahan-lahan hadirkan sunyi
mengundang angin malam yang mulai berisik
seakan mengajak kita berdiskusi
lalu sesekali menyelinap masuk kekulit
membekukan segala kerisauan
pada jiwa-jiwa yang lelah
Kopi-kopi dalam gelaspun perlahan mulai dingin
namun rasanya masih sama
tetap pada kadar kepahitannya yang nikmat
bintang-bintangpun menawarkan pemandangan lagit yang indah
sunggu maha hebat tuhanku yang perkasa
menghadirkan kesederhanaan
namun mampu menawarkan cerita yang istimewa
Mari kita kesampingkan problematika hati kita
melepaskan segala penat didada
yang terlalu sibuk menghardik batin kita
Lupakanlah . .
Waktu ini hanya bisa kita genggam disini
jangan pulang dulu, sang fajar masih ayal tuk hadir
bus-bus antar kotapun belum enggan berpolusi
Nikmatilah. .
Sebab jogja pasti selalu menawarkan rindu
untuk segera memintamu kembali mendublir
![]() |
| source: Google |
Di bawah ladang bintang aku bersimpuh. Menikmati lalu-lalang
kendaraan, kepulan asap tipis dan arakan awan yang tersipu malu
berjalan. Dibaliknya bulan kecil tersenyum. Seolah berharap tiada hujan
datang melukai bintang-bintang. Lalu kini seiring detik melingkar,
tidak lagi diriku menganggap bintang-bintang dan awan adalah
pemandangan, tetapi, hati kecilku berkata bahwa mereka adalah teman.
Mereka selalu setia menemani langkahku menyusuri gelap malam.
Dan
mereka telah mengenalkanku pada mentari, yang menyinari hariku dengan
cahaya penuh kasih sayang dikala siang. Ia menuntun mataku untuk melihat
rumput-tumput berdansa, dan menuntun telingaku untuk mendengarkan
cerita burung-burung minggu pagi. Jogja memiliki caranya sendiri untuk
membuatku nyaman.
Dialah
metropolitan yang menawarkan hasrat menenangkan, dengan, angklung dan
beberapa baris nada di lampu merah, pedagang-pedagang Malioboro yang
tersenyum ramah tamah, bunga layu di pasar kembang, kunang-kunang di
padang ilalang, tikar dan jagung bakar yang mengitari beringin kembar,
serta embun-embun yang bercinta dengan pucuk daun di pinggir jalan.
Jogja tak pernah lupa cara untuk membuatku mencintainya.
Jogja
adalah mosaik yang menilas, membungkus puisi dan narasi indah yang
selalu membekas. Sampai jika aku harus meniggalkan Jogja, itu berarti
aku bersepakat pada diriku untuk menanamkan rindu kepada Jogja.
![]() |
| Source: Google |
"Terbawa lagi langkahku ke sana
mantra apa entah yang istimewa
kupercaya selalu ada sesuatu di jogja
dengar lagu lama ini katanya
izinkan aku pulang ke kotamu
kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja"-


